Monday, April 2, 2007

Senyum

Senyum

pelangiyuyun.multiply.com

“Pagi Laras, Wah, pagi-pagi udah minum kopi. Semalem begadang ya?” sapa seorang teman pada gadis itu
“Hai, pagi juga!! Ya, gitu deh,” balas Laras. Otot-otot wajahnya segera tertarik kebelakang membentuk senyuman. Tangannya masih memegang mug yang berisi kopi hangat. Ia mengacungkan mug itu sesaat. Ia berusaha tak memikirkan hal lain selain mencoba mempertahankan senyum itu.

Dilewatinya kubik-kubik setiap bagian. Lalu ia melangkah ke kubiknya di pojok ruangan. Dia menyenangi tempatnya. Sebuah tempat yang sempurna untuk mempersiapkan senyumnya. Di tempat itu ia sering memikirkan hal ini. Apakah orang-orang yang berada di kubik-kubik itu perlu tahu yang terjadi padanya?

Hari pertamanya dia memegang jabatan yang baru,, justru ia mengetahui adiknya ditahan polisi. Tak lama setelah itu orangtuanya sakit-sakitan karena memikirkan adiknya dengan mendalam. Dan semalam, di depan matanya, lelaki yang dicintainya berselingkuh. Apakah mereka perlu mengetahu kemalangannya? Lebih baik tidak, pikirnya. Yang mereka inginkan hanyalah melihat senyumku. Kalaupun aku bercerita apakah mereka orang yang tepat? Akankah semua hal yang menyesakkanku menguap? Tak semua orang mau mendengarkan dengan penuh perasaan. “Ini ujian buat kamu, Ras.” Paling itu yang dikatakan mereka.

Dia menghela nafas panjang. Jari lentiknya bergerak-gerak. Mug itu diaduknya dengan sendok perak. Kopi di dalamnya bercampur sempurna dengan gula diet. “Aku harus belajar mempertahankan senyumku,” katanya. Karena setiap kemalangan tak harus diceritakan. Setiap tetes air mata tak harus terlihat. Seperti orang yang menangis dalam hati, hati mereka menjerit namun bulir air mata tak turun ke pipi. “Aku benar-benar harus belajar tersenyum. Aku butuh alasan yang kuat untuk tersenyum,” ujarnya lagi. Gadis cantik itu mengambil kertas. Menggoreskan sesuatu sebagai pengingatnya bila ia lupa.

-Aku akan tersenyum sesaat setelah seseorang mengecewakanku. Karena manusia tak luput dari kealpaan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah impianku terbang. Karena kenyataan tak selalu sama dengan harapan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Karena Tuhan akan membalas ketidakadilan itu dengan keberuntungan di lain waktu
-Aku akan tersenyum sesaat setelah aku kehilangan sesuatu yang berharga untukku. Karena rizki akan ditebarkan dan dipungut kembali oleh Tuhan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah pekerjaanku dinilai salah oleh atasanku. Karena semua itu hanyalah untuk memacu kinerjaku lebih baik lagi
-Aku akan tersenyum sesaat setelah aku mendapat kesedihan. Karena aku yakin dibalik musibah ada kemudahan.

Laras menghiasi tulisan itu dengan bunga-bunga berwarna-warni. Terlihat cerah sekali. Seperti kecerahan yang membingkai wajahnya. Senyumnya sekarang tanpa dipaksakan. Kertas itu ia tempelkan di sisi komputernya agar ia bisa melihatnya setiap saat.

Thursday, February 8, 2007

Guys...Mapfhhhhh ya...tadinya disini ada cerpen yg judulnya "Hati untuk Sang PEngelana" tapi skrg cerpen itu udah aku simpan di tempat yg "aman". Dan siap untuk diperdalam lagi demi "sesuatu yg besar." Wish me luck...
MAkasih semua... atas comment, masukan ataupun kritiknya. I do appreciate it.

Thursday, January 18, 2007

Senyum

Bila Angin Singgah

Dia datang di setiap musim. Hanya sekali. Lalu dia menghilang. Tubuhnya menjadi angin. Dia bertiup ke segala penjuru. Aku hanyalah sebuah titik yang dilewatinya. Apakah dia benar-benar ingin singgah? Entahlah. Bila menemuiku, dia seperti lelah bertiup. Awan gelap dan titik-titik air juga mengiringinya.

“Ada apa, Za?” tanyaku ketika Zaldi menelponku. Sudah lama aku tak mendengar suara teman lamaku ini. Setelah lulus kuliah dia bekerja di sebuah radio.
“Cuma mau tahu kabar kamu,” jawab Zaldi.
“Aku baik-baik aja. Dua tahun ini aku masih di kantor akuntan yang sama.” Rasanya menceritakan worksheet yang bertumpuk bukan topik yang menarik. “Kamu sendiri? Masih jadi Program Director?”
“Masih. Oya, maaf ya aku udah lama nggak contact kamu. Aku pikir kamu benar. Aku memang harus memecahkan masalahku sendiri. Nggak seharusnya aku selalu merepotkan kamu.”
“Nggak pa pa kok, Za. That’s what friends are for.”
“Sebenarnya aku bosan menjadi Program Director. Aku lagi mengincar posisi Station Manager, Vi. Cuma..…aku belum tahu kapan bisa menduduki posisi itu. Sementara ini aku mengamati tugas-tugasnya. Sampai-sampai aku ikut-ikutan cari iklan supaya punya pengalaman di bidang marketing. Masalahnya, News Director di tempat aku sepertinya juga memiliki ambisi yang sama. Sebelnya, dia memakai cara-cara yang tidak sehat.” Zaldi mengungkapkan kekecewaannya padaku.


Percakapanku dengan Zaldi cukup singkat. Selalu saja berakhir dengan dorongan semangat dariku. Aku hafal satu hal. Hari ini dia meleponku. Besok, takkan kudengar kabarnya sampai musim berganti.

Sampai detik ini, Zaldi adalah seseorang yang ambisius. Sifatnya sama seperti yang kukenal waktu kuliah dulu. Dia sangat idealis. Seperti ketika dia mengelola radio kampus. Programnya harus berdasarkan pakem yang dipelajarinya di jurusan Broadcasting. Justru karena itulah dia semakin dikenal. Aku sering cemburu pada gadis-gadis cantik di kampus. Mereka rela menungguinya siaran. Apa aku pantas cemburu? Aku rasa iya. Karena kami pernah memiliki persahabatan yang aneh.

Waktu itu aku kuliah di jurusan Akuntansi semester dua. Aku belum pernah memiliki pacar. Tiba-tiba selesai kuliah umum Zaldi mengajakku berkenalan. Selanjutnya kami menjadi akrab. Dia bertanya apa aku sudah punya pacar atau belum. Dia ingin tahu tipe laki-laki impianku. Dan hal-hal semacamnya. Dengan lugunya aku menjawab, “Aku belum boleh pacaran sama Mama. Jadi aku belum memikirkan semua itu.” Kemudian katanya, “Kalau begitu, aku akan mencoba jadi yang terbaik untuk kamu.”

Sejak hari itu kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku merasa Tuhan begitu sayang padaku. Aku tak peduli apa nama hubungan kami. Yang pasti aku bahagia. Aku dekat dengan seseorang yang dikenal baik dan cerdas Wajah tampannya juga sering dibicarakan gadis-gadis di setiap fakultas.

Saat berjalan di sampingnya, kebanggaan memenuhi hatiku. Apalagi ketika aku menangkap tatapan tak rela gadis-gadis itu. Suatu ketika aku menunggunya di kantin. Seorang teman kuliah menghampiri aku. “Vira, aku dengar kamu jadian ya sama Zaldi? Tapi rasanya nggak mungkin Zaldi suka sama kamu.”
Aku tersenyum. Aku menyangkal bahwa Zaldi menaruh perhatian lebih padaku. Kulirik diriku sendiri. Sepatu ketsku sederhana. T-shirt dan celana jeans membuatku terkesan tomboy. Sedangkan Zaldi selalu rapi. Dia lebih pantas mendapatkan gadis feminim. Mungkin yang berambut panjang dan bermake up. Aku benar-benar beruntung. Rasanya aku perlu berubah. Aku tersanjung ketika Zaldi memujiku, “Kamu lebih cantik seperti ini.”


Beberapa minggu berselang, aku terhenyak. Zaldi mengaku baru menjalin hubungan dengan seseorang. Bunga-bunga di hatiku dalam sekejap layu. Kelopaknya berjatuhan. Aku menjadi sangat mengasihani diriku. Aku tak tahu apa arti diriku untuknya. Mungkin aku hanya sekedar api. Kobaran yang menghidupkan sumbu semangatnya ketika padam. Aku adalah tempat dia berbagi keluh kesah.

Setelah lulus kuliah, Zaldi sering mengunjungiku di rumah. “Bagaimana hubungan kamu dengan Zaldi?” Aku bosan setiap kali orangtuaku menanyakan hal ini. Dia memang satu-satunya lelaki yang kukenalkan pada mereka. Tapi sayang, lelaki ini tidak akan melihatku lebih dari seorang sahabat. Rasa bosan itu memuncak. Seperti biasa dia mengirim email. Kali ini dia menceritakan iklim kerja di kantornya yang tidak kondusif. Lalu kubalas, “Za, kamu harus mulai mengatasi masalahmu sendiri. Sudah saatnya kamu lebih dewasa. Aku yakin kamu bisa.”

Bagi Zaldi kesulitan adalah tantangan yang harus ditaklukkan Aku yakin ide-idenya akan diterima para pemilik modal. Aku tak pernah lagi membalas emailnya. Syukurlah aku sering mendapat tugas audit ke luar kota. Pelan-pelan aku melupakan rasa itu. Aku bisa menerima orang lain di hatiku.

Sebenarnya aku telah merelakannya. Aku telah melepasnya ketika dia tidak pernah ada di sampingku. Tapi dia selalu datang kembali. “Vi, pa kabar? Kapan kita bisa ketemu?” kata Zaldi di telepon setahun kemudian. Kehadirannya kali ini mampu mengusikku. Saat ini aku baru putus dari pacarku. Kenangan yang terkubur mencuat kembali. Aku tak dapat menolak ketika Zaldi ingin menemuiku.

Aku datang ke sebuah café yang dipilih Zaldi. Kesan romantis terasa ketika aku memasuki bangunan ini. Aku memilih sofa tepat di depan panggung. Penyanyi diiringi band berdiri di depan tirai merah. Lantunan lagu jazz di era 50-an membuatku nyaman.

“Vira…” Lelaki itu melambaikan tangannya. Badannya yang tegap berjalan ke arahku. “Vi, aku senang kamu mau datang,” Zaldi masih seperti dulu. Senyumnya ramah. Wajahnya berkilau dibawah pijar lampu. “Kamu…. tampak lain malam ini, Vi. Lebih dewasa. Lebih anggun,” sapa Zaldi. Aku membalas pujiannya. Tak lama, makanan yang kami pesanpun datang. Pembicaraan kami terasa akrab.

Zaldi menceritakan hari-harinya sebagai seorang Station Manager. “Aku ikut senang kamu berhasil meraih impian kamu, Za. Dari dulu aku yakin kamu mampu meraihnya,” kataku.
“Harusnya dari dulu mereka menerapkan teknologi yang lebih canggih. Aku selalu menekankan hal itu. Awalnya pemilik modal ragu. Namun akhirnya mereka setuju. Rasanya puas sekal, Vi. Program-program yang kurancang bisa menjaring banyak pendengar. Eh, kok aku yang banyak bicara? Kamu sendiri, sepertinya tambah sibuk aja.”
“Lumayan. Memang ada beberapa perusahaan yang aku tangani saat ini. Seringkali sampai larut malam mata masih melotot. Menganalisa dan menghitung angka-angka di dalam laporan keuangan. Mata rasanya mau copot.” Zaldi tertawa. Dia memang seperti angin. Hembusannya menyejukkan. Namun aku gundah. Apa yang akan terjadi setelah ini?


Aku masih berharap tentang Zaldi. Berhari-hari aku menyangkal kenyataan ini. Senyumnya, semangatnya, perhatiannya bagaikan pasir hisap. Aku tersedot jauh ke dalam. Ah, kenapa dia tidak menghilang seperti dulu? Kalau perlu, selamanya.

Aku sering berharap dia mengabarkan bahwa dia akan segera menikah. Biar semua selesai. Namun itu tak kunjung terlontar darinya. Siapa kekasihnya sekarang? Bodohnya aku. Harusnya kutanyakan itu padanya. Kenapa dia juga tak pernah menanyakan hal yang sama padaku? Apa dia tidak peduli? Aku bimbang. Kemana aku harus melangkah?

Bunyi panggilan dari HP Zaldi membuatku tersentak. Haruskah aku berterus terang padanya? Tidak mungkin. Tapi… aku lelah memenjarakan perasaan ini. Cobalah. Sekarang atau tidak sama sekali.,,, Cobalah… …ungkapkan. Bukankah akhir-akhir ini kami kembali akrab? Suara hatiku berbisik.

“Vi, lama banget sih ngangkatnya?” kata Zaldi dengan nada kesal.
“Iya maaf. Hpku di dalam tas.” kilahku. “Ada kabar apa nih?”
“Vi, kamu harus ikut seneng ya…” Irama suaranya berubah ceria. “Bulan depan, Vi….bulan depan. Maaf aku belum sempat cerita…. Aku juga nggak nyangka bisa ketemu jodoh secepat ini.” Zaldi mengabarkan bahwa dia akan segera menikah.


Apa mungkin karena aku pernah berharap hal ini terjadi? Jantungku berdegup kencang. Kunang-kunang menari di pelupuk mataku. Bumi yang kupijak seperti bergetar hebat. Keseimbanganku goyah. Aku berdiri di antara garis mimpi dan kenyataan. Aku menyadari angin itu takkan berhembus kembali.

Thursday, January 11, 2007

Lemonade of Life

Aku seperti seekor siput yang merangkak pelan di hamparan lumut lembab. Kurasakan bintang tak berbentuk berotasi mengelilingi tempurung rumahku. Andai kerlipnya seindah yang kulihat tergantung di atap bumi, aku pasti senang sekali. Jadi aku tak perlu menunggu pekatnya malam seperti yang biasa kulakukan sekedar untuk meliriknya. Tapi bintang ini adalah syaraf di otakku yang tidak mau bekerja sama. Waktu aku ingin berjalan, malah dia berderit-derit seperti berteriak ingin dibaringkan di atas kapas yang lembut. Akhirnya aku mengalah.

Radang liver memang hal yang sering terjadi pada orang-orang muda yang melupakan hidangan pengganjal perut di pagi hari. Aku termasuk dalam orang-orang itu. Bila matahari bertengger di atas kepala, aku hanya melihatnya sekilas dari jendela kantorku, Kemudian aku tenggelam di dunia maya atau menatap layar komputer berjam-jam. Menjemput dewi mimpi pun ku lakukan setelah hampir dini hari. Pantaslah sekarang tubuhku berontak. Akhirnya aku mengalah. Dan aku memang merasa kalah. Aku menjalani Bedrest selama satu bulan.

Tak ada gunanya menyesali. Kupasang ear phone yang kabelnya telah menancap di Hpku. Ah! Justine Timberlake tak mampu menghiburku saat ini. Suara indah Glen Fedli juga tak membuat bibirku bersenandung. Saat ini aku ingin membawa pikiranku menembus dinding kamar. Dia ingin bebas berkelana.

“Jadi seminar tentang “Rahasia Bisnis Elmo Yahya” akan di adakan sabtu ini?” Keningku berkerut ketika mendengar nama presenter dan pengusaha di bidang entertainment itu disebut di frekuensi radio yang lain.
“Ya. Sekarang saya ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana pelaksanaan seminar itu.” Kupasangkan kupingku baik2. “Nanti akan ada teori-teori bagaimana membuat diri kita kaya. Kemudian ada workshop membuat list peluang di sekitar kita. Ada juga sharing orang-orang yang berhasil membangun kerajaan bisninsnya setelah kegagalan. Percayalah! Menjadi kaya itu mudah sekali.” Aku jadi semakin penasaran dengan kalimatnya.
“Tidak mungkin kaya itu mudah. Biasanya orang-orang kaya itu kan mereka yang punya kedudukan. Dan untuk meraih kedudukan itu kan dari level bawah. Saff misalnya. Kemudian setelah bertahun-tahun menjadi SPV, baru menjadi manajer. Di saat itulah bisa memiliki anything you can dream of, dengan kata lain, kaya.” Aku setuju dengan yang diucapkan Rony, sang penyiar. Dia pikir menjadi kaya semudah menjentikkan jari tangan.
“Inilah persepsi yang keliru. Kenapa harus menjadi manager untuk kaya? Di dunia ini banyak pekerjaan. Yang kita perlukan adalah berpikir kreatif. Menjadikan apa yg tidak ada menjadi ada. Mungkin kisah saya ini bisa memberikan inspirasi. Saya dulu punya perusahaan. Saya pernah tiga kali bangkrut. Yang terakhir saya hanya menyisakan 20 juta dan hutang mencapai 200 juta.”
“Wah, menyedihkan sekali. Bagaimana anda keluar dari masalah itu?” tanya Roni pada Abdul, sang pembicara.
“Kebetulan saya mengenal Elmo Yahya. Beliau mengatakan bahwa saya harus menginvestasikan uang saya untuk ilmu. Toh percuma kalau saya bayarkan untuk hutang juga tidak cukup. Kemudian saya memilih kursus mind mapping di Amerika.” Tiba-tiba frekuensi radioku tidak jelas. Mungkin dia bilang mind mapping atau yang lain, entahlah. Yang pasti dia bercerita tentang kursus mengubah cara berpikir. Dengan mengubah cara berpikir kita bisa kaya secara materi. Aku masih merasa aneh dengan topik ini. “Di tempat kursus itu saya bertemu pebisnis2 yang pernah gagal . Saya tidak menyangka, bahkan ada yang lebih gagal dari saya,” lanjut Abdul.
“Ratusan dolar?” Rony seakan tidak percaya.
“Oh, iya. Kerugian mereka mencapai ratusan dolar. Ada satu keanehan di dalam seminar itu. Setiap sesi tanya jawab, salah satu pembicara selalu meminta peserta yang bertanya untuk datang mendekat. Tentu kita heran dengan sikap pembicara ini.”
“Kenapa harus mendekat?”
“Akhirnya pembicara itu bilang, “I’m totally deaf”. Jadi ketika peserta berada dekat dengan jarak pandangnya, dia membaca gerak bibir. Spontan semua peserta kaget. Seorang pengusaha terkenal ternyata deaf.”
“Benarkah?”
“Ya. Suatu pagi dia terbangun dalam keadaan tak mendengar suara. Setelah ke dokter ternyata waktu tidur ada syaraf-syarafnya yang rusak dan tidak bisa diperbaiki. Selama sebulan dia meratapi dirinya yang telah menjadi tuna rungu. Dia berpikir bagaimana menghidupi anak2 dan istrinya? Bagi dia cukup sebulan dia meratapi nasib. Setelah itu dia membuka usaha. Keinginan untuk tidak menelantarkan anaknya adalah cambuk baginya. Dengan keuletannya, usaha itu berkembang dan terus berkembang. Jadi dia telah mengubah cara berpikirnya. Dia bersyukur pernah mendengar jadi dia tinggal belajar membaca gerak bibir. Akhirnya dia kaya kembali.”
“Hebat sekali ya. Dia tidak mau menyerah pada keterbatasan.”
“Satu hal yang selalu saya ingat. Dia bilang, kenapa kita harus menunggu Tuhan mengambil kesempurnaan kita sebagai manusia, baru kita bangkit?” Kalimat ini menyentil gendang telingaku.
“Anda benar. Setelah Anda pulang ke Indonesia apa yang Anda lakukan?”
“Saat itu tertanam di otak saya bahwa kita harus mampu berpikir kreatif. Karena bangkrut, saya hanya punya ilmu. Saya memilih menjadi seorang motivator. Orang akan membayar saya untuk memotivasi mereka. Akhirnya pelan-pelan saya bisa meraih kembali apa yang hilang.”
“Itu kan karena Anda punya 20 juta. Bagaimana kalau hanya pegawai kecil seperti saya?” Rony terdengar pesimis.
“Satu hal yang terpenting, cari motivasi yang terkuat. Ingin punya rumah bagus? Ingin punya mobil mewah? Motivasi itu yang akan membuat kita tetap fokus untuk mencapai tujuan. Bukalah mata dan pikiran. Lihatlah peluang di sekelilingmu. Berlatihlah memiliki ide-ide kreatif. Bila tak punya capital, carilah mereka yang punya modal. Komunikasikan dengan mereka ide-ide brilian anda. Wujudkan ide-ide itu. Percaya bahwa Anda mampu, bertanggungjawablah dengan kepercayaan yang mereka berikan. Tanpa modal yang berupa uang yang banyak anda juga bisa kaya.”


Akhirnya aku mengerti kenapa menjadi seorang motivator adalah pilihannya. Dia tahu banyak orang yang tidak dapat menguasai dirinya sendiri dan jatuh dalam keterpurukan nasib buruk. Banyak orang yang mudah menyerah pada keterbatasan. Banyak orang yang memilih terjebak dalam zona aman dibandingkan “Get rich or die trying” (meminjam istilah Rapper, 50 cents).


Hening terasa ketika kumatikan radio. Aku mengangguk-angguk dan mencoba mencari motivasi yang kuat dalam diriku. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin? Aku butuh alasan lebih kuat lagi. Untuk apa kita kaya? Batinku menjawab, “Untuk mencapai surga.” Bagaimana bisa beramal bila tak sepeserpun di tangan? Bagaimana bisa berbagi dengan orang lain bila tak punya apa-apa? Aku akan memperjualbelikan pundi-pundi harta dengan Tuhan Yang Maha Pemurah. Suatu hari nanti Dia akan membayarku dengan tempat terindah di langit. Aku rasa aku tidak punya alasan lain selain ini. Inilah kekayaan yang kucari. Aku puas dengan alasan ini karena aku adalah hamba-Nya.

Salah seorang manusia terkaya di dunia, yang tak dapat kuingat namanya, diwawancara, “Bila kamu terlahir miskin, apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku akan minta jas termahal dan daftarkan aku di klub para eksekutif dan pengusaha terkenal.” Rasanya dia benar. Bergaul dengan pedagang kayu cendana akan membuat tangan kita seharum kayu cendana. Hal senada juga diungkapkan seorang teman lama yang baru memulai usaha. “Aku biasa mendatangi seminar-seminar untuk sekedar bertukar kartu nama. Ini penting untuk mempromosikan usaha yang aku jalani. Simply, aku jalanin usaha ini cuma berdua dengan temanku. Dan setiap ada penawaran sebuah pekerjaan, aku bilang sanggup. Lalu aku minta advanced payment, paling tidak setengahnya. Dengan uang itu aku akan membayar tenaga orang lain atau berburu bahan baku yang murah. Pokoknya jangan sampai peluang itu melayang.”

Bagi temanku, ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi orangtuanya adalah motivasinya. Aku jadi teringat satu pepatah “If life gives you lemon, make lemonade.” Yang berarti sebaiknya kita “Making the most of bad situation.” Kira-kira sama artinya dengan memaksimalkan potensi kita walaupun berada dalam situasi buruk sekalipun. Tugas kuliah yang tidak selesai karena kesulitan mencari bahan, Bos mengungkapkan kemarahannya ketika target yang tidak tercapai, banyak rintangan pada saat deadline sudah di depan mata. Situasi buruk dan keterbatasan seperti gerbong kereta api yang berderet. Kalau begitu aku memilih menjadi penumpang saja. Aku membawa selembar tiket yang berupa akal.

Lemon. Aku harus membuat lemonade. Walaupun aku tidak begitu suka karena rasanya masam karena dia berisi kekhawatiran akan masa depan. Tapi aku ingin membuat lemonade. Ketika kuperas lemon, serat-seratnya yang rusak terlihat seperti kerak-kerak pikiran negatif yang satu persatu lepas. Ketika airnya menetes, yang keluar adalah pikiran positif. Kutadah tetes-tetes itu dalam gelas pikiran yang jernih. Kuberikan gula harapan dan mimpi yang manis. Kutambahkan es yang terbuat dari lantunan doa, hingga airnya terasa sangat sejuk. Lemonade of life is ready to drink. Kini aku merasa mampu bertumpu pada kedua kakiku padahal aku masih berbaring.

Luvyuyunbercerita.blogspot.com


Tuesday, January 2, 2007

“Penulis Modal Dengkul” Award

Kakiku yang beralaskan sepatu berhak tinggi melangkah dengan hati2 menuju stage. “Jangan sampai jatuh.” Kataku dalam hati. “ Gaun hitam yang menyatu dengan tubuhku membuatku terlihat anggun. Tak ubahnya seorang penerima oscar, kugenggam erat award yang baru aku dapatkan di ajang award bagi penulis-penulis tahun ini. Dari tadi aku sibuk mengingat orang-orang yang akan kusebutkan dalam pidato terima kasihku.

"Pertama-tama saya ingin bersyukur pada Allah S.W.T yang telah menjadikan gelap gulita memudar dan sinar mentari merona menyinari kalbu yang rapuh. Dialah yang mengizinkan batin mampu menyingkap makna rahasia sepotong nyawa dalam tubuh ini. Karena kuasa-Nyalah, setiap indra yang saya punya selalu ingin menggapai banyak hal di tengah sempitnya waktu."

Mataku menyapu deretan penonton yang menghadiri acara penganugerahan ini. Aliran nafas yang hangat memenuhi rongga dadaku. Kemudian kulanjutkan kalimatku.

“Terima kasih kepada juri yang telah menjatuhkan Penulis Modal Dengkul Award pada Saya. Saya akan buktikan saya memang benar2 penulis modal dengkul. Saya ucapkan terima kasih kepada C’nS Junior yang telah memberikan saya kesempatan menjadi editor, jadi nggak perlu kursus “creative writing” untuk bisa menulis.

Tak lupa kepada my Senior Editor, Ibu Mathilde, seorang wanita yang senyumnya menenangkan hati. Yang tak segan2 membimbing saya untuk peka melihat “target readers” dari suatu tulisan. Beliau juga dengan senang hati memberikan kritikan. Waktu saya pertama kali serius belajar menulis, beliau bilang, “Saya mau mengkritik tulisan kamu asal kamu nggak merasa tersinggung.”

Ibu Mathil yang baru datang dari merayakan Ulang tahun perkawinannya yang ke 30 tahun duduk dengan dahi berkerut-kerut. Pasti dia kaget namanya aku sebut-sebut. Kemudian aku melanjutkan kalimatku.

“Setelah saya baca kritikan beliau, ternyata kata-katanya itu terasa menyejukkan. “Tulisan kamu nggak logis. Menulis itu harus memakai logika. Dan lebih baik kita menulis sesuatu yang kita tahu dengan baik.” Pada beliau, saya hanya cukup membayar dengan revisi tulisan yang saya ketik dengan komputer kantor pada saat break makan siang.” Dan Ibu Mathilpun tersenyum padaku. Dia menoleh kepada suami tercinta kemudian membetulkan tempat duduknya.

Berikutnya ucapan terima kasih yang mendalam juga saya sampaikan kepada Hudan Hidayat, seorang sastrawan yang namanya sangat dikenal di dunia penulisan creative writing. Pada saat saya berikan cerpen saya yang berjudul “Gerbang Kota” dia bilang, “Kamu seorang realis dengan bahasa yang kuat.” Kemudian dia memberikan beberapa Novel koleksinya untuk saya jadikan “guru” termasuk novelnya yang terbaru yang berjudul Tuan dan Nona Kosong. Bahkan dia juga meminjamkan setumpuk Novel lama yang sampai sekarang belum selesai saya baca.

Hudan Hidayat membetulkan kacamatanya. Dia juga tersenyum sambil menoleh ke keluarganya. Dia seperti ingin memperkenalkan sumber inspirasinya padaku.

“Kepada Astuti, a sister who always tells me that reading is important. Dia seorang art lover, book lover and also music lover. Dulu saya sangat tidak suka membaca namun dia selalu membeli buku-buku dan majalah. Kemudian dia akan melihat saya dengan tatapan bahwa dia tahu banyak hal. Sekarang saya menjadi terpacu untuk banyak membaca.” akui, memang suatu kebiasaan itu bisa dibangun dengan mengondisikan lingkungan yang kita inginkan.”

Tutik yang sedang berjalan menenteng biolanya tersenyum padaku. Dia memilih kursi yang paling depan agar bisa melihatku dengan jelas.

“Penulis Sides juga pernah memberikan bukunya secara gratis pada saya ketika saya menghadiri seminar Ibu Naning Pranoto, Penulis yang saya kagumi. Dalam buku Ibu Naning saya mengerti bahwa Penulis cerita adalah pendongeng bukan penceramah. Oya, Buku Naning juga saya pinjam dari Ibu Mathilde. Sedangkan dari Buku Pak Sides saya mengetahui bahwa cerita itu harus membuat pembaca berkomentar, “Oh, jadi karena ini si itu jadi begini atau karena si ini ketemu si itu makanya jadi begitu. Ini dan itu selalu ada benang merahnya. Kemudian ini bisa menjadi itu atau itu adalah ini dan sebagainya. Buku Arswendo juga menyadarkan saya bahwa tidak ada keharusan untuk selalu berpijak pada kisah nyata. Disitulah kreativitas penulis untuk mengembangkan cerita ditantang.”

Ibu Naning, Pak Sides dan Arswendo yang duduk berdampingan melayangkan senyumnya padaku. Kebahagiaan bahwa buku mereka bermanfaat terlukiskan di setiap detail wajah mereka.

“Last but not least, nama ini juga layak disebut. Jeno. Seseorang nun jauh yang menjadi tempat berbagi cerita dan mengasah ketajaman beranalisa tentang lingkungan sekitar. Dia juga tempat saya belajar membuat judul. Dia telah membuktikan bahwa setiap detik adalah sangat berharga. Satu lagi, dari dialah saya belajar bahwa pengorbanan cinta tidak pernah sia-sia. Selalu ada hikmah yang kita ambil meskipun cinta itu tidak kita miliki lagi.”

Penonton bersorak-sorai mendengar kalimat ini. Jeno yang datang jauh-jauh dari Dubai untuk menghadiri penghargaan itu tersenyum malu. Raut wajahnya mengatakan bahwa tidak sia-sia puluhan emailku yang dia baca dan dibalasnya di sela-sela kesibukannya.

Tiba-tiba orang-orang yang aku sebutkan tadi melempariku dengan kertas. Rupanya pidatoku terlalu panjang dan mereka tidak mau disebut-sebut sebagai orang yang berarti dalam perkembangan kemampuanku menulis.


“Dug!!” kepalaku terbentur ke lantai. Ternyata aku terbangun dari alam mimpi. Tidak ada Hudan, Ibu Mathil dan yang lain. Hahaha…Dasar!!!, Penulis modal dengkul!! Nulis cerita aja nunggu mimpi dulu!

Gadis Kecil Berponi

Saat itu aku harus dirawat di rumah sakit selama seminggu karena radang liver. Menjelang sore aku teringat kelasku yang berisi anak-anak kelas 3 SD. Seharusnya saat ini aku berada di sana. Aku berbaring sambil menatap langit-langit. “Ela,” gumamku. Kulihat di hpku tertera Ela’s calling. Ela adalah teman baikku di LIA Bintaro, tempat aku mengajar bahasa Inggris
“Ha..lo”
“Tha... murid-murid kamu nih, pada mau ngomong!” Bisa kudengar dengan jelas suara anak-anak kecil didekat Ela.
“Haa? Ngapain...? Ya udah deh, aku ngomong sama mereka.” Kudengar suara-suara kecil itu memanggil namaku.
“Cepet sembuh ya, Miss!!” teriak anak-anak itu beramai-ramai.
“Iya, makasih. Ini suara siapa nih?”
“Alif, Miss.”
“Makasih ya, sayang. Cepet masuk kelas ya.” Kututup pembicaraan singkat itu.

Alif. Di mataku dia gadis kecil yang cerdas dan pemberani. Suatu hari dia memprovokasi teman-teman sekelasnya untuk tidak mengikuti pelajaran pada hari itu. Saat itu aku harus mengajar kelas lain karena guru kelas itu berhalangan hadir. Sedangkan kelasku akan digabungkan dengan kelas lain yang levelnya sama. Alif keluar kelas diikuti teman-temannya yang membawa tas siap untuk pulang. Gadis kecil berponi lurus dan berambut panjang itu bagaikan akan memimpin demo mahasiswa. Dia menghampiri aku yang sudah berada di depan pintu kelas lain.
“Miss!! Aku nggak mau diajar guru lain,” kata Alif berapi-api.
“Eh, pada mau ngapain? Kok malah pada keluar kelas. Ayo masuk lagi. Ini belum waktunya pulang.”
“Miss. Kita nggak mau di ajar guru lain. Miss aja deh yang ngajar,” kata teman-teman Alif.
“Maaf sayang, Miss harus ngajar kelas lain. Nggak bisa ngajar kalian hari ini. Minggu depan ya, Miss pasti ngajar kalian lagi.” Aku mencoba menenangkan mereka yang masih menuntut hal itu.”Oya, kalian kan hari ini belajar bareng sama kelas lain. Pasti seru deh ketemu temen-temen baru.”
“Nggak Miss...Nggak enak,” kata muridku beramai-ramai.
“Loh, kata siapa? Kan belum dilakuin. Nanti kan pasti belajarnya sambil main game. Nah, kalo orangnya banyak, pasti main gamenya seru banget.” Aku mencoba mengalihkan perhatian mereka. “Okey, class? Ayo semuanya! Masuk kelas sekarang ya.” Kemudian anak-anak itu masuk kelas dengan tenang termasuk Alif. Aku selalu ingin tertawa mengingat kejadian sore itu. Kadang-kadang kita tidak menyadari arti diri kita bagi orang lain. Kuputuskan untuk berbicara dengan Alif lagi melalui telepon Ela.
“Bentar ya, aku panggilkan Alif.” Ela mengetuk ruang kelasku. Guru kelas yang menggantikan aku mengizinkan Alif berbicara denganku.
“Ini Alif ya.”
“Iya, Miss.”
“Belajar sama siapa hari ini?”
“Mr.Andi. Eh, Miss sakit apa sih?”
“Sakit hati.”
‘Sakit hati? Miss marah?”
“Maksud Miss...” Aku bingung bagaimana menjelaskan sakit liver pada seorang anak berusia 9 tahun. “Dalam tubuh kita ini kan ada yang namanya hati. Gara-gara kecapekan dan makan nggak teratur, hati kita itu bisa sakit.”
“Oh.” Alif mencoba mencerna penjelasanku. “Miss kapan masuk?” lanjutnya.
“Belum tahu. Ya udah deh, Alif balik ke kelas lagi, ya. Jangan nakal ya, sayang.”
“Iya, Miss.”

Setelah pembicaraan itu berakhir aku masih mengingat pribadi Alif. Di antara teman-temannya yang lain, dia yang lebih suka menggunakan bahasa Inggris ketika berbicara denganku. Cara berbicaranya lembut namun percaya diri. Dia sering menggodaku dengan berpura-pura tidak mau mengerjakan tugas. Seringkali dia mengerjakannya dengan lambat sekali padahal aku yakin dia mampu lebih cepat dari itu. “Alif, Miss terpaksa kasih nilai B ya. Padahal kalau Alif lebih teliti bisa dapet A.” Kadang-kadang aku mengatakan itu untuk memperlihatkan bahwa dia bisa mendapatkan hasil yang lebih baik apabila dia mau lebih serius.

Ketika Alif merasa dekat denganku dia akan mulai menggodaku. Seperti sore itu.
“Class, what did you study last week?”
“I don’t know Miss.” Gaya Alif yang manja ini diikuti teman-temannya.
“How come?”
“I don’t remember Miss,”kata Alif lagi.
“Why don’t you open your book if you don’t remember?”
“The book is in my bag.”Alif memeluk tasnya.
“Then, why don’t you open your bag?”
“No, Miss. I don’t want to.”
Aku tidak ingin meladeni aksinya. Kemudian aku beralih ke seorang murid yang sering mengganggu teman-temannya di kelas. Gerry sepertinya tahu aku merasa terganggu dengan sikap Alif. Ketika aku menanyakan hal yang sama, Gery membuka bukunya. Aku harus menghentikan sikap Alif yang masih ingin ‘bercanda’ denganku.
“Alif, Gerry aja mau membuka bukunya, kenapa kamu nggak? Why?”
“Okay, okay Miss.” katanya dengan santainya. Akhirnya Alif mengerti bahwa saat itu bukan saat yang tepat untuk bercanda. Kadang-kadang pada saat aku memberikan waktu untuk murid-muridku bermain game, tanpa ragu-ragu dia mengatakan. “Miss, I don’t want to play”. Akhirnya aku berikan dia tanggung jawab sebagai pemimpin di kelompoknya. Dengan rasa enggan dia melakukannya. Tapi kemudian dia yang paling banyak memberikan ide. Sejak saat itu, bila saatnya bermain game aku selalu menjadikannya pemimpin di kelompoknya. Melibatkan dia secara penuh selalu bisa merebut perhatiannya kembali.

Anak-anak cerdas memang selalu mencari cara untuk menguji kesabaran gurunya. Seperti ketika aku menangkap seekor ikan dengan jaring kecil. Mungkin aku akan kewalahan. Kuarahkan jaring, makhluk air itu berloncatan kesana kemari. Tapi kemanapun dia pergi aku menghadangnya dengan jaringku. Akhirnya ikan itu meloncat sendiri ke jaringku. Mungkin siripnya kelelahan. Atau mungkin dia telah menganggapku seorang teman. Saat malam menjelang aku masih merasa seperti nelayan yang merindukan ikan-ikan kecil itu. Tapi kini aku nelayan yang terkapar. Yang tidak mampu lagi melawan angin dan gelombang dilautan. Kapalku juga terdampar di pantai. Kayu-kayunya terkoyak. Aku butuh kayu baru, lem, paku atau apapun untuk memperbaikinya. Secepatnya. Supaya aku bisa bertemu gadis berponi itu lagi.

Being an Editor..... Why Not?

"Yun, It's a good chance." I think u must apply for the position.
"Being an editor? I've never thought of that."
"Trust me. I know you can."Rony, my colleage in LIA Bintaro convinced me.
"I don't know"
"Try!! Nothing to lose anyway."

I have to thank this guy. Definitely.
I find my world when i work as an Editor in C'nS Junior Magazines. I always like writing but I never thought writing stories can be this fun. Who knows I can be a writer one day. A real one. Somebody who's full of imagination and whose words can be a lesson for life.
I never thought getting into the children's world is so much fun. I feel like my mind, thought and soul are enriched day by day. Join my world, guys!! hopefully you get the same feeling as I do.