Thursday, January 18, 2007

Senyum

Bila Angin Singgah

Dia datang di setiap musim. Hanya sekali. Lalu dia menghilang. Tubuhnya menjadi angin. Dia bertiup ke segala penjuru. Aku hanyalah sebuah titik yang dilewatinya. Apakah dia benar-benar ingin singgah? Entahlah. Bila menemuiku, dia seperti lelah bertiup. Awan gelap dan titik-titik air juga mengiringinya.

“Ada apa, Za?” tanyaku ketika Zaldi menelponku. Sudah lama aku tak mendengar suara teman lamaku ini. Setelah lulus kuliah dia bekerja di sebuah radio.
“Cuma mau tahu kabar kamu,” jawab Zaldi.
“Aku baik-baik aja. Dua tahun ini aku masih di kantor akuntan yang sama.” Rasanya menceritakan worksheet yang bertumpuk bukan topik yang menarik. “Kamu sendiri? Masih jadi Program Director?”
“Masih. Oya, maaf ya aku udah lama nggak contact kamu. Aku pikir kamu benar. Aku memang harus memecahkan masalahku sendiri. Nggak seharusnya aku selalu merepotkan kamu.”
“Nggak pa pa kok, Za. That’s what friends are for.”
“Sebenarnya aku bosan menjadi Program Director. Aku lagi mengincar posisi Station Manager, Vi. Cuma..…aku belum tahu kapan bisa menduduki posisi itu. Sementara ini aku mengamati tugas-tugasnya. Sampai-sampai aku ikut-ikutan cari iklan supaya punya pengalaman di bidang marketing. Masalahnya, News Director di tempat aku sepertinya juga memiliki ambisi yang sama. Sebelnya, dia memakai cara-cara yang tidak sehat.” Zaldi mengungkapkan kekecewaannya padaku.


Percakapanku dengan Zaldi cukup singkat. Selalu saja berakhir dengan dorongan semangat dariku. Aku hafal satu hal. Hari ini dia meleponku. Besok, takkan kudengar kabarnya sampai musim berganti.

Sampai detik ini, Zaldi adalah seseorang yang ambisius. Sifatnya sama seperti yang kukenal waktu kuliah dulu. Dia sangat idealis. Seperti ketika dia mengelola radio kampus. Programnya harus berdasarkan pakem yang dipelajarinya di jurusan Broadcasting. Justru karena itulah dia semakin dikenal. Aku sering cemburu pada gadis-gadis cantik di kampus. Mereka rela menungguinya siaran. Apa aku pantas cemburu? Aku rasa iya. Karena kami pernah memiliki persahabatan yang aneh.

Waktu itu aku kuliah di jurusan Akuntansi semester dua. Aku belum pernah memiliki pacar. Tiba-tiba selesai kuliah umum Zaldi mengajakku berkenalan. Selanjutnya kami menjadi akrab. Dia bertanya apa aku sudah punya pacar atau belum. Dia ingin tahu tipe laki-laki impianku. Dan hal-hal semacamnya. Dengan lugunya aku menjawab, “Aku belum boleh pacaran sama Mama. Jadi aku belum memikirkan semua itu.” Kemudian katanya, “Kalau begitu, aku akan mencoba jadi yang terbaik untuk kamu.”

Sejak hari itu kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku merasa Tuhan begitu sayang padaku. Aku tak peduli apa nama hubungan kami. Yang pasti aku bahagia. Aku dekat dengan seseorang yang dikenal baik dan cerdas Wajah tampannya juga sering dibicarakan gadis-gadis di setiap fakultas.

Saat berjalan di sampingnya, kebanggaan memenuhi hatiku. Apalagi ketika aku menangkap tatapan tak rela gadis-gadis itu. Suatu ketika aku menunggunya di kantin. Seorang teman kuliah menghampiri aku. “Vira, aku dengar kamu jadian ya sama Zaldi? Tapi rasanya nggak mungkin Zaldi suka sama kamu.”
Aku tersenyum. Aku menyangkal bahwa Zaldi menaruh perhatian lebih padaku. Kulirik diriku sendiri. Sepatu ketsku sederhana. T-shirt dan celana jeans membuatku terkesan tomboy. Sedangkan Zaldi selalu rapi. Dia lebih pantas mendapatkan gadis feminim. Mungkin yang berambut panjang dan bermake up. Aku benar-benar beruntung. Rasanya aku perlu berubah. Aku tersanjung ketika Zaldi memujiku, “Kamu lebih cantik seperti ini.”


Beberapa minggu berselang, aku terhenyak. Zaldi mengaku baru menjalin hubungan dengan seseorang. Bunga-bunga di hatiku dalam sekejap layu. Kelopaknya berjatuhan. Aku menjadi sangat mengasihani diriku. Aku tak tahu apa arti diriku untuknya. Mungkin aku hanya sekedar api. Kobaran yang menghidupkan sumbu semangatnya ketika padam. Aku adalah tempat dia berbagi keluh kesah.

Setelah lulus kuliah, Zaldi sering mengunjungiku di rumah. “Bagaimana hubungan kamu dengan Zaldi?” Aku bosan setiap kali orangtuaku menanyakan hal ini. Dia memang satu-satunya lelaki yang kukenalkan pada mereka. Tapi sayang, lelaki ini tidak akan melihatku lebih dari seorang sahabat. Rasa bosan itu memuncak. Seperti biasa dia mengirim email. Kali ini dia menceritakan iklim kerja di kantornya yang tidak kondusif. Lalu kubalas, “Za, kamu harus mulai mengatasi masalahmu sendiri. Sudah saatnya kamu lebih dewasa. Aku yakin kamu bisa.”

Bagi Zaldi kesulitan adalah tantangan yang harus ditaklukkan Aku yakin ide-idenya akan diterima para pemilik modal. Aku tak pernah lagi membalas emailnya. Syukurlah aku sering mendapat tugas audit ke luar kota. Pelan-pelan aku melupakan rasa itu. Aku bisa menerima orang lain di hatiku.

Sebenarnya aku telah merelakannya. Aku telah melepasnya ketika dia tidak pernah ada di sampingku. Tapi dia selalu datang kembali. “Vi, pa kabar? Kapan kita bisa ketemu?” kata Zaldi di telepon setahun kemudian. Kehadirannya kali ini mampu mengusikku. Saat ini aku baru putus dari pacarku. Kenangan yang terkubur mencuat kembali. Aku tak dapat menolak ketika Zaldi ingin menemuiku.

Aku datang ke sebuah café yang dipilih Zaldi. Kesan romantis terasa ketika aku memasuki bangunan ini. Aku memilih sofa tepat di depan panggung. Penyanyi diiringi band berdiri di depan tirai merah. Lantunan lagu jazz di era 50-an membuatku nyaman.

“Vira…” Lelaki itu melambaikan tangannya. Badannya yang tegap berjalan ke arahku. “Vi, aku senang kamu mau datang,” Zaldi masih seperti dulu. Senyumnya ramah. Wajahnya berkilau dibawah pijar lampu. “Kamu…. tampak lain malam ini, Vi. Lebih dewasa. Lebih anggun,” sapa Zaldi. Aku membalas pujiannya. Tak lama, makanan yang kami pesanpun datang. Pembicaraan kami terasa akrab.

Zaldi menceritakan hari-harinya sebagai seorang Station Manager. “Aku ikut senang kamu berhasil meraih impian kamu, Za. Dari dulu aku yakin kamu mampu meraihnya,” kataku.
“Harusnya dari dulu mereka menerapkan teknologi yang lebih canggih. Aku selalu menekankan hal itu. Awalnya pemilik modal ragu. Namun akhirnya mereka setuju. Rasanya puas sekal, Vi. Program-program yang kurancang bisa menjaring banyak pendengar. Eh, kok aku yang banyak bicara? Kamu sendiri, sepertinya tambah sibuk aja.”
“Lumayan. Memang ada beberapa perusahaan yang aku tangani saat ini. Seringkali sampai larut malam mata masih melotot. Menganalisa dan menghitung angka-angka di dalam laporan keuangan. Mata rasanya mau copot.” Zaldi tertawa. Dia memang seperti angin. Hembusannya menyejukkan. Namun aku gundah. Apa yang akan terjadi setelah ini?


Aku masih berharap tentang Zaldi. Berhari-hari aku menyangkal kenyataan ini. Senyumnya, semangatnya, perhatiannya bagaikan pasir hisap. Aku tersedot jauh ke dalam. Ah, kenapa dia tidak menghilang seperti dulu? Kalau perlu, selamanya.

Aku sering berharap dia mengabarkan bahwa dia akan segera menikah. Biar semua selesai. Namun itu tak kunjung terlontar darinya. Siapa kekasihnya sekarang? Bodohnya aku. Harusnya kutanyakan itu padanya. Kenapa dia juga tak pernah menanyakan hal yang sama padaku? Apa dia tidak peduli? Aku bimbang. Kemana aku harus melangkah?

Bunyi panggilan dari HP Zaldi membuatku tersentak. Haruskah aku berterus terang padanya? Tidak mungkin. Tapi… aku lelah memenjarakan perasaan ini. Cobalah. Sekarang atau tidak sama sekali.,,, Cobalah… …ungkapkan. Bukankah akhir-akhir ini kami kembali akrab? Suara hatiku berbisik.

“Vi, lama banget sih ngangkatnya?” kata Zaldi dengan nada kesal.
“Iya maaf. Hpku di dalam tas.” kilahku. “Ada kabar apa nih?”
“Vi, kamu harus ikut seneng ya…” Irama suaranya berubah ceria. “Bulan depan, Vi….bulan depan. Maaf aku belum sempat cerita…. Aku juga nggak nyangka bisa ketemu jodoh secepat ini.” Zaldi mengabarkan bahwa dia akan segera menikah.


Apa mungkin karena aku pernah berharap hal ini terjadi? Jantungku berdegup kencang. Kunang-kunang menari di pelupuk mataku. Bumi yang kupijak seperti bergetar hebat. Keseimbanganku goyah. Aku berdiri di antara garis mimpi dan kenyataan. Aku menyadari angin itu takkan berhembus kembali.

4 comments:

Jeno said...

I like the story..was it really just a dream ? What I see here is, Zaldi is really a great friend for Vira. That's what friend all about, someone to talk to and to share with. Somewhat, vira takes it in different way. If I was Vira, I would have told him that she needs him as the beloved one rather than just keep quiet and hurts herself in the end. But, there may be always a possibility that Zaldi also likes her, if he didn't tell her he must have had certain reasons why he is so. He may felt she's not the right person to be with or may be he was thinking that she should gets someone else who better than him as she deserves the better one instead. Well anyway, the messsage that I could take from the story is " Go get your dreams whatever it takes " tell them, reach it, straight forward doubtless and fearless. That's true that sometimes we need to scrifice, sometimes it makes someone cries..failure is the start for being success. Just bear in mind, anything in this earth is ruled out, sometimes we can't do anything. If today we don't get what we want, may be tomorrow we would get the better one or even the best one. Just keep go on, don't forget to pray and keep your efforts on. Never down !!

Luvyuyun said...

Thank u for ur comment, Je. di akhir ceritanya... "mama membangunkanku dengan aroma minyak kayu putih" i use the sentence to show that the writer got shock with the news sampe dia pingsan. Sikap Zaldi memang membingungkan Vira. Well,It wasn't a dream... some are facts... some are not. i wanna tell the readers about how valuable a friendship is. How love can sacrifice its own happiness. We should be ready for the worst. Never down..kind of hard since as a human we've got hopes and dreams... How about getting up easily after falling and be sure that we'll get a better one after we lose something?

Anonymous said...

Cerita ini mengingatkan saya pada sebuah cerpen dengan judul, 'suatu senja di kafe kuningan' meski gaya , alur dan plotnya berbeda, tapi setingnya sama, angin yang berhembus dan suasana kafe yang cozzy. Hmm, jadi kangen ke food court PS bawa laptop, n nulis cerpen deh. Punya rekomendasi kafe yang 'hening' ga?

Luvyuyun said...

"suatu senja di cafe kuningan?" kita nggak pernah tahu ya dan, kdg tiba2 aja ada orang lain yg membuat cerita dg alur yg sama. atau gaya penulisan yg sama. setting tempat itupun aku cuma liat di O' Channel. Waktu itu lg ada event jazz gitu, entah di lounge mana gue juga lupa. Gue tulis suasana kafenya dari sisa2 ingatan gue aja. Ttg, gaya penulisan gue, knapa yg gue kok lebih suka yg seperti ini. Tapi kapan2 gue coba deh yg banyak dialognya.

Hehe..gue hampir nggak pernah ke kafe, tuh, dan. Rumah gue sangat "hening". Disanalah gue menulis dg tenang. Emang biasanya lo ke foodcourt mana?