Lemonade of LifeAku seperti seekor siput yang merangkak pelan di hamparan lumut lembab. Kurasakan bintang tak berbentuk berotasi mengelilingi tempurung rumahku. Andai kerlipnya seindah yang kulihat tergantung di atap bumi, aku pasti senang sekali. Jadi aku tak perlu menunggu pekatnya malam seperti yang biasa kulakukan sekedar untuk meliriknya. Tapi bintang ini adalah syaraf di otakku yang tidak mau bekerja sama. Waktu aku ingin berjalan, malah dia berderit-derit seperti berteriak ingin dibaringkan di atas kapas yang lembut. Akhirnya aku mengalah.
Radang liver memang hal yang sering terjadi pada orang-orang muda yang melupakan hidangan pengganjal perut di pagi hari. Aku termasuk dalam orang-orang itu. Bila matahari bertengger di atas kepala, aku hanya melihatnya sekilas dari jendela kantorku, Kemudian aku tenggelam di dunia maya atau menatap layar komputer berjam-jam. Menjemput dewi mimpi pun ku lakukan setelah hampir dini hari. Pantaslah sekarang tubuhku berontak. Akhirnya aku mengalah. Dan aku memang merasa kalah. Aku menjalani Bedrest selama satu bulan.
Tak ada gunanya menyesali. Kupasang ear phone yang kabelnya telah menancap di Hpku. Ah! Justine Timberlake tak mampu menghiburku saat ini. Suara indah Glen Fedli juga tak membuat bibirku bersenandung. Saat ini aku ingin membawa pikiranku menembus dinding kamar. Dia ingin bebas berkelana.
“Jadi seminar tentang “Rahasia Bisnis Elmo Yahya” akan di adakan sabtu ini?” Keningku berkerut ketika mendengar nama presenter dan pengusaha di bidang entertainment itu disebut di frekuensi radio yang lain.
“Ya. Sekarang saya ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana pelaksanaan seminar itu.” Kupasangkan kupingku baik2. “Nanti akan ada teori-teori bagaimana membuat diri kita kaya. Kemudian ada workshop membuat list peluang di sekitar kita. Ada juga sharing orang-orang yang berhasil membangun kerajaan bisninsnya setelah kegagalan. Percayalah! Menjadi kaya itu mudah sekali.” Aku jadi semakin penasaran dengan kalimatnya.
“Tidak mungkin kaya itu mudah. Biasanya orang-orang kaya itu kan mereka yang punya kedudukan. Dan untuk meraih kedudukan itu kan dari level bawah. Saff misalnya. Kemudian setelah bertahun-tahun menjadi SPV, baru menjadi manajer. Di saat itulah bisa memiliki anything you can dream of, dengan kata lain, kaya.” Aku setuju dengan yang diucapkan Rony, sang penyiar. Dia pikir menjadi kaya semudah menjentikkan jari tangan.
“Inilah persepsi yang keliru. Kenapa harus menjadi manager untuk kaya? Di dunia ini banyak pekerjaan. Yang kita perlukan adalah berpikir kreatif. Menjadikan apa yg tidak ada menjadi ada. Mungkin kisah saya ini bisa memberikan inspirasi. Saya dulu punya perusahaan. Saya pernah tiga kali bangkrut. Yang terakhir saya hanya menyisakan 20 juta dan hutang mencapai 200 juta.”
“Wah, menyedihkan sekali. Bagaimana anda keluar dari masalah itu?” tanya Roni pada Abdul, sang pembicara.
“Kebetulan saya mengenal Elmo Yahya. Beliau mengatakan bahwa saya harus menginvestasikan uang saya untuk ilmu. Toh percuma kalau saya bayarkan untuk hutang juga tidak cukup. Kemudian saya memilih kursus mind mapping di Amerika.” Tiba-tiba frekuensi radioku tidak jelas. Mungkin dia bilang mind mapping atau yang lain, entahlah. Yang pasti dia bercerita tentang kursus mengubah cara berpikir. Dengan mengubah cara berpikir kita bisa kaya secara materi. Aku masih merasa aneh dengan topik ini. “Di tempat kursus itu saya bertemu pebisnis2 yang pernah gagal . Saya tidak menyangka, bahkan ada yang lebih gagal dari saya,” lanjut Abdul.
“Ratusan dolar?” Rony seakan tidak percaya.
“Oh, iya. Kerugian mereka mencapai ratusan dolar. Ada satu keanehan di dalam seminar itu. Setiap sesi tanya jawab, salah satu pembicara selalu meminta peserta yang bertanya untuk datang mendekat. Tentu kita heran dengan sikap pembicara ini.”
“Kenapa harus mendekat?”
“Akhirnya pembicara itu bilang, “I’m totally deaf”. Jadi ketika peserta berada dekat dengan jarak pandangnya, dia membaca gerak bibir. Spontan semua peserta kaget. Seorang pengusaha terkenal ternyata deaf.”
“Benarkah?”
“Ya. Suatu pagi dia terbangun dalam keadaan tak mendengar suara. Setelah ke dokter ternyata waktu tidur ada syaraf-syarafnya yang rusak dan tidak bisa diperbaiki. Selama sebulan dia meratapi dirinya yang telah menjadi tuna rungu. Dia berpikir bagaimana menghidupi anak2 dan istrinya? Bagi dia cukup sebulan dia meratapi nasib. Setelah itu dia membuka usaha. Keinginan untuk tidak menelantarkan anaknya adalah cambuk baginya. Dengan keuletannya, usaha itu berkembang dan terus berkembang. Jadi dia telah mengubah cara berpikirnya. Dia bersyukur pernah mendengar jadi dia tinggal belajar membaca gerak bibir. Akhirnya dia kaya kembali.”
“Hebat sekali ya. Dia tidak mau menyerah pada keterbatasan.”
“Satu hal yang selalu saya ingat. Dia bilang, kenapa kita harus menunggu Tuhan mengambil kesempurnaan kita sebagai manusia, baru kita bangkit?” Kalimat ini menyentil gendang telingaku.
“Anda benar. Setelah Anda pulang ke Indonesia apa yang Anda lakukan?”
“Saat itu tertanam di otak saya bahwa kita harus mampu berpikir kreatif. Karena bangkrut, saya hanya punya ilmu. Saya memilih menjadi seorang motivator. Orang akan membayar saya untuk memotivasi mereka. Akhirnya pelan-pelan saya bisa meraih kembali apa yang hilang.”
“Itu kan karena Anda punya 20 juta. Bagaimana kalau hanya pegawai kecil seperti saya?” Rony terdengar pesimis.
“Satu hal yang terpenting, cari motivasi yang terkuat. Ingin punya rumah bagus? Ingin punya mobil mewah? Motivasi itu yang akan membuat kita tetap fokus untuk mencapai tujuan. Bukalah mata dan pikiran. Lihatlah peluang di sekelilingmu. Berlatihlah memiliki ide-ide kreatif. Bila tak punya capital, carilah mereka yang punya modal. Komunikasikan dengan mereka ide-ide brilian anda. Wujudkan ide-ide itu. Percaya bahwa Anda mampu, bertanggungjawablah dengan kepercayaan yang mereka berikan. Tanpa modal yang berupa uang yang banyak anda juga bisa kaya.”
Akhirnya aku mengerti kenapa menjadi seorang motivator adalah pilihannya. Dia tahu banyak orang yang tidak dapat menguasai dirinya sendiri dan jatuh dalam keterpurukan nasib buruk. Banyak orang yang mudah menyerah pada keterbatasan. Banyak orang yang memilih terjebak dalam zona aman dibandingkan “Get rich or die trying” (meminjam istilah Rapper, 50 cents).
Hening terasa ketika kumatikan radio. Aku mengangguk-angguk dan mencoba mencari motivasi yang kuat dalam diriku. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin? Aku butuh alasan lebih kuat lagi. Untuk apa kita kaya? Batinku menjawab, “Untuk mencapai surga.” Bagaimana bisa beramal bila tak sepeserpun di tangan? Bagaimana bisa berbagi dengan orang lain bila tak punya apa-apa? Aku akan memperjualbelikan pundi-pundi harta dengan Tuhan Yang Maha Pemurah. Suatu hari nanti Dia akan membayarku dengan tempat terindah di langit. Aku rasa aku tidak punya alasan lain selain ini. Inilah kekayaan yang kucari. Aku puas dengan alasan ini karena aku adalah hamba-Nya.
Salah seorang manusia terkaya di dunia, yang tak dapat kuingat namanya, diwawancara, “Bila kamu terlahir miskin, apa yang kamu lakukan?” Dia menjawab, “Aku akan minta jas termahal dan daftarkan aku di klub para eksekutif dan pengusaha terkenal.” Rasanya dia benar. Bergaul dengan pedagang kayu cendana akan membuat tangan kita seharum kayu cendana. Hal senada juga diungkapkan seorang teman lama yang baru memulai usaha. “Aku biasa mendatangi seminar-seminar untuk sekedar bertukar kartu nama. Ini penting untuk mempromosikan usaha yang aku jalani. Simply, aku jalanin usaha ini cuma berdua dengan temanku. Dan setiap ada penawaran sebuah pekerjaan, aku bilang sanggup. Lalu aku minta advanced payment, paling tidak setengahnya. Dengan uang itu aku akan membayar tenaga orang lain atau berburu bahan baku yang murah. Pokoknya jangan sampai peluang itu melayang.”
Bagi temanku, ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi orangtuanya adalah motivasinya. Aku jadi teringat satu pepatah “If life gives you lemon, make lemonade.” Yang berarti sebaiknya kita “Making the most of bad situation.” Kira-kira sama artinya dengan memaksimalkan potensi kita walaupun berada dalam situasi buruk sekalipun. Tugas kuliah yang tidak selesai karena kesulitan mencari bahan, Bos mengungkapkan kemarahannya ketika target yang tidak tercapai, banyak rintangan pada saat deadline sudah di depan mata. Situasi buruk dan keterbatasan seperti gerbong kereta api yang berderet. Kalau begitu aku memilih menjadi penumpang saja. Aku membawa selembar tiket yang berupa akal.
Lemon. Aku harus membuat lemonade. Walaupun aku tidak begitu suka karena rasanya masam karena dia berisi kekhawatiran akan masa depan. Tapi aku ingin membuat lemonade. Ketika kuperas lemon, serat-seratnya yang rusak terlihat seperti kerak-kerak pikiran negatif yang satu persatu lepas. Ketika airnya menetes, yang keluar adalah pikiran positif. Kutadah tetes-tetes itu dalam gelas pikiran yang jernih. Kuberikan gula harapan dan mimpi yang manis. Kutambahkan es yang terbuat dari lantunan doa, hingga airnya terasa sangat sejuk. Lemonade of life is ready to drink. Kini aku merasa mampu bertumpu pada kedua kakiku padahal aku masih berbaring.
Luvyuyunbercerita.blogspot.com
Bagi temanku, ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik bagi orangtuanya adalah motivasinya. Aku jadi teringat satu pepatah “If life gives you lemon, make lemonade.” Yang berarti sebaiknya kita “Making the most of bad situation.” Kira-kira sama artinya dengan memaksimalkan potensi kita walaupun berada dalam situasi buruk sekalipun. Tugas kuliah yang tidak selesai karena kesulitan mencari bahan, Bos mengungkapkan kemarahannya ketika target yang tidak tercapai, banyak rintangan pada saat deadline sudah di depan mata. Situasi buruk dan keterbatasan seperti gerbong kereta api yang berderet. Kalau begitu aku memilih menjadi penumpang saja. Aku membawa selembar tiket yang berupa akal.
Lemon. Aku harus membuat lemonade. Walaupun aku tidak begitu suka karena rasanya masam karena dia berisi kekhawatiran akan masa depan. Tapi aku ingin membuat lemonade. Ketika kuperas lemon, serat-seratnya yang rusak terlihat seperti kerak-kerak pikiran negatif yang satu persatu lepas. Ketika airnya menetes, yang keluar adalah pikiran positif. Kutadah tetes-tetes itu dalam gelas pikiran yang jernih. Kuberikan gula harapan dan mimpi yang manis. Kutambahkan es yang terbuat dari lantunan doa, hingga airnya terasa sangat sejuk. Lemonade of life is ready to drink. Kini aku merasa mampu bertumpu pada kedua kakiku padahal aku masih berbaring.
Luvyuyunbercerita.blogspot.com
2 comments:
Yuyun, my dearest...
Every star has it's own light that shines to others. I'm sure you have a very special light, that shines brightly to people around you. Be strong...as strong as you can be, cause those people need you to become their star.
Thanks, Mbak Ira. I'll light up my soul first. Btw, Nice to meet you at the Rotaract Club that day (the meeting on jan16 quite inspired me). Sayang, blom s4 beli bukunya Raka si Kambingjantan itu. Hehe..aku datengnya kalo ada guest speaker aja, nggak pa pa kan mbak?
Post a Comment