“Penulis Modal Dengkul” Award
Kakiku yang beralaskan sepatu berhak tinggi melangkah dengan hati2 menuju stage. “Jangan sampai jatuh.” Kataku dalam hati. “ Gaun hitam yang menyatu dengan tubuhku membuatku terlihat anggun. Tak ubahnya seorang penerima oscar, kugenggam erat award yang baru aku dapatkan di ajang award bagi penulis-penulis tahun ini. Dari tadi aku sibuk mengingat orang-orang yang akan kusebutkan dalam pidato terima kasihku.
"Pertama-tama saya ingin bersyukur pada Allah S.W.T yang telah menjadikan gelap gulita memudar dan sinar mentari merona menyinari kalbu yang rapuh. Dialah yang mengizinkan batin mampu menyingkap makna rahasia sepotong nyawa dalam tubuh ini. Karena kuasa-Nyalah, setiap indra yang saya punya selalu ingin menggapai banyak hal di tengah sempitnya waktu."
Mataku menyapu deretan penonton yang menghadiri acara penganugerahan ini. Aliran nafas yang hangat memenuhi rongga dadaku. Kemudian kulanjutkan kalimatku.
“Terima kasih kepada juri yang telah menjatuhkan Penulis Modal Dengkul Award pada Saya. Saya akan buktikan saya memang benar2 penulis modal dengkul. Saya ucapkan terima kasih kepada C’nS Junior yang telah memberikan saya kesempatan menjadi editor, jadi nggak perlu kursus “creative writing” untuk bisa menulis.
Tak lupa kepada my Senior Editor, Ibu Mathilde, seorang wanita yang senyumnya menenangkan hati. Yang tak segan2 membimbing saya untuk peka melihat “target readers” dari suatu tulisan. Beliau juga dengan senang hati memberikan kritikan. Waktu saya pertama kali serius belajar menulis, beliau bilang, “Saya mau mengkritik tulisan kamu asal kamu nggak merasa tersinggung.”
Ibu Mathil yang baru datang dari merayakan Ulang tahun perkawinannya yang ke 30 tahun duduk dengan dahi berkerut-kerut. Pasti dia kaget namanya aku sebut-sebut. Kemudian aku melanjutkan kalimatku.
“Setelah saya baca kritikan beliau, ternyata kata-katanya itu terasa menyejukkan. “Tulisan kamu nggak logis. Menulis itu harus memakai logika. Dan lebih baik kita menulis sesuatu yang kita tahu dengan baik.” Pada beliau, saya hanya cukup membayar dengan revisi tulisan yang saya ketik dengan komputer kantor pada saat break makan siang.” Dan Ibu Mathilpun tersenyum padaku. Dia menoleh kepada suami tercinta kemudian membetulkan tempat duduknya.
Berikutnya ucapan terima kasih yang mendalam juga saya sampaikan kepada Hudan Hidayat, seorang sastrawan yang namanya sangat dikenal di dunia penulisan creative writing. Pada saat saya berikan cerpen saya yang berjudul “Gerbang Kota” dia bilang, “Kamu seorang realis dengan bahasa yang kuat.” Kemudian dia memberikan beberapa Novel koleksinya untuk saya jadikan “guru” termasuk novelnya yang terbaru yang berjudul Tuan dan Nona Kosong. Bahkan dia juga meminjamkan setumpuk Novel lama yang sampai sekarang belum selesai saya baca.
Hudan Hidayat membetulkan kacamatanya. Dia juga tersenyum sambil menoleh ke keluarganya. Dia seperti ingin memperkenalkan sumber inspirasinya padaku.
“Kepada Astuti, a sister who always tells me that reading is important. Dia seorang art lover, book lover and also music lover. Dulu saya sangat tidak suka membaca namun dia selalu membeli buku-buku dan majalah. Kemudian dia akan melihat saya dengan tatapan bahwa dia tahu banyak hal. Sekarang saya menjadi terpacu untuk banyak membaca.” akui, memang suatu kebiasaan itu bisa dibangun dengan mengondisikan lingkungan yang kita inginkan.”
Tutik yang sedang berjalan menenteng biolanya tersenyum padaku. Dia memilih kursi yang paling depan agar bisa melihatku dengan jelas.
“Penulis Sides juga pernah memberikan bukunya secara gratis pada saya ketika saya menghadiri seminar Ibu Naning Pranoto, Penulis yang saya kagumi. Dalam buku Ibu Naning saya mengerti bahwa Penulis cerita adalah pendongeng bukan penceramah. Oya, Buku Naning juga saya pinjam dari Ibu Mathilde. Sedangkan dari Buku Pak Sides saya mengetahui bahwa cerita itu harus membuat pembaca berkomentar, “Oh, jadi karena ini si itu jadi begini atau karena si ini ketemu si itu makanya jadi begitu. Ini dan itu selalu ada benang merahnya. Kemudian ini bisa menjadi itu atau itu adalah ini dan sebagainya. Buku Arswendo juga menyadarkan saya bahwa tidak ada keharusan untuk selalu berpijak pada kisah nyata. Disitulah kreativitas penulis untuk mengembangkan cerita ditantang.”
Ibu Naning, Pak Sides dan Arswendo yang duduk berdampingan melayangkan senyumnya padaku. Kebahagiaan bahwa buku mereka bermanfaat terlukiskan di setiap detail wajah mereka.
“Last but not least, nama ini juga layak disebut. Jeno. Seseorang nun jauh yang menjadi tempat berbagi cerita dan mengasah ketajaman beranalisa tentang lingkungan sekitar. Dia juga tempat saya belajar membuat judul. Dia telah membuktikan bahwa setiap detik adalah sangat berharga. Satu lagi, dari dialah saya belajar bahwa pengorbanan cinta tidak pernah sia-sia. Selalu ada hikmah yang kita ambil meskipun cinta itu tidak kita miliki lagi.”
Penonton bersorak-sorai mendengar kalimat ini. Jeno yang datang jauh-jauh dari Dubai untuk menghadiri penghargaan itu tersenyum malu. Raut wajahnya mengatakan bahwa tidak sia-sia puluhan emailku yang dia baca dan dibalasnya di sela-sela kesibukannya.
Tiba-tiba orang-orang yang aku sebutkan tadi melempariku dengan kertas. Rupanya pidatoku terlalu panjang dan mereka tidak mau disebut-sebut sebagai orang yang berarti dalam perkembangan kemampuanku menulis.
“Dug!!” kepalaku terbentur ke lantai. Ternyata aku terbangun dari alam mimpi. Tidak ada Hudan, Ibu Mathil dan yang lain. Hahaha…Dasar!!!, Penulis modal dengkul!! Nulis cerita aja nunggu mimpi dulu!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment