Senyum
pelangiyuyun.multiply.com
“Pagi Laras, Wah, pagi-pagi udah minum kopi. Semalem begadang ya?” sapa seorang teman pada gadis itu
“Hai, pagi juga!! Ya, gitu deh,” balas Laras. Otot-otot wajahnya segera tertarik kebelakang membentuk senyuman. Tangannya masih memegang mug yang berisi kopi hangat. Ia mengacungkan mug itu sesaat. Ia berusaha tak memikirkan hal lain selain mencoba mempertahankan senyum itu.
Dilewatinya kubik-kubik setiap bagian. Lalu ia melangkah ke kubiknya di pojok ruangan. Dia menyenangi tempatnya. Sebuah tempat yang sempurna untuk mempersiapkan senyumnya. Di tempat itu ia sering memikirkan hal ini. Apakah orang-orang yang berada di kubik-kubik itu perlu tahu yang terjadi padanya?
Hari pertamanya dia memegang jabatan yang baru,, justru ia mengetahui adiknya ditahan polisi. Tak lama setelah itu orangtuanya sakit-sakitan karena memikirkan adiknya dengan mendalam. Dan semalam, di depan matanya, lelaki yang dicintainya berselingkuh. Apakah mereka perlu mengetahu kemalangannya? Lebih baik tidak, pikirnya. Yang mereka inginkan hanyalah melihat senyumku. Kalaupun aku bercerita apakah mereka orang yang tepat? Akankah semua hal yang menyesakkanku menguap? Tak semua orang mau mendengarkan dengan penuh perasaan. “Ini ujian buat kamu, Ras.” Paling itu yang dikatakan mereka.
Dia menghela nafas panjang. Jari lentiknya bergerak-gerak. Mug itu diaduknya dengan sendok perak. Kopi di dalamnya bercampur sempurna dengan gula diet. “Aku harus belajar mempertahankan senyumku,” katanya. Karena setiap kemalangan tak harus diceritakan. Setiap tetes air mata tak harus terlihat. Seperti orang yang menangis dalam hati, hati mereka menjerit namun bulir air mata tak turun ke pipi. “Aku benar-benar harus belajar tersenyum. Aku butuh alasan yang kuat untuk tersenyum,” ujarnya lagi. Gadis cantik itu mengambil kertas. Menggoreskan sesuatu sebagai pengingatnya bila ia lupa.
-Aku akan tersenyum sesaat setelah seseorang mengecewakanku. Karena manusia tak luput dari kealpaan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah impianku terbang. Karena kenyataan tak selalu sama dengan harapan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Karena Tuhan akan membalas ketidakadilan itu dengan keberuntungan di lain waktu
-Aku akan tersenyum sesaat setelah aku kehilangan sesuatu yang berharga untukku. Karena rizki akan ditebarkan dan dipungut kembali oleh Tuhan
-Aku akan tersenyum sesaat setelah pekerjaanku dinilai salah oleh atasanku. Karena semua itu hanyalah untuk memacu kinerjaku lebih baik lagi
-Aku akan tersenyum sesaat setelah aku mendapat kesedihan. Karena aku yakin dibalik musibah ada kemudahan.
Laras menghiasi tulisan itu dengan bunga-bunga berwarna-warni. Terlihat cerah sekali. Seperti kecerahan yang membingkai wajahnya. Senyumnya sekarang tanpa dipaksakan. Kertas itu ia tempelkan di sisi komputernya agar ia bisa melihatnya setiap saat.
Monday, April 2, 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)